Ini 5 Fakta Menarik Kain Batik Khas Indonesia yang Mendunia

Style —Rabu, 17 Februari 2021 15:58 WIB
Editor: Tania
    Bagikan:  
Ini 5 Fakta Menarik Kain Batik Khas Indonesia yang Mendunia

POSKOTAJATIM

TERHITUNG sejak tahun 2009, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Peringatan ini terjadi, saat batik memperoleh pengakuan dunia dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Organisasi ini menetapkan batik sebagai salah satu warisan budaya lisan dan budaya tak-benda intangible cultural heritage (ICH).

Pengakuan UNESCO ini, yang kemudian melandasi pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Presiden Indonesia saat itu yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat Keputusan Presiden atau Keprres tentang Hari Batik Nasional. Hari Batik Nasional tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009. Sebelum batik, UNESCO juga sudah mengakui keris dan wayang sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia.

Sebelum akhirnya diakui UNESCO, Batik Indonesia terlebih dahulu didaftarkan untuk mendapat status ICH melalui kantor UNESCO di Jakarta oleh Menko Kesejahteraan Rakyat, mewakili pemerintah dan komunitas batik Indonesia, pada 4 September 2008.

BACA JUGA: Berikut 4 Band yang Menggunakan Kata ‘Senja’ dalam Judul Lagunya, Salah Satunya Budi Doremi

Batik dinilai sebagai ikon budaya yang memiliki keunikan dan filosofi mendalam, serta mencakup siklus kehidupan manusia. Secara etimologis, kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu "amba" yang berarti "menulis" dan "tik" yang berarti "titik". Kata ini, kemudian berkembang menjadi istilah "batik".

Istilah tersebut menggambarkan cara membuat titik dengan lilin yang menetes pada kain. Batik juga dikaitkan dengan teknik atau proses dari awal pembuatan motif hingga warna yang akan dicelupkan. Salah satu ciri khas batik adalah cara menggambar motif pada kain yang menggunakan alat khusus yang disebut canting.

Dahulu, batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang saat itu mengenakan batik di Konferensi PBB. Sejak itu, batik semakin kenal luas dan mendunia. Bicara soal batik, ternyata terdapat berbagai fakta unik dan menarik terakit kain khas Indonesia ini, dan berikut Pos Kota Jabar telah merangkumnya.


BACA JUGA : Ramalan Zodiak Hari Ini, Rabu 17 Februari 2021, Leo Menikmati Status Jomblo, Taurus Merasa Bersalah

[page-pagination]


Batik tulis adalah jenis termahal

Dalam proses pembuatannya, kain batik memiliki beberapa metode yang umum digunakan. Seperti kita tahu, metode pembuatan kain batik itu ditulis langsung lewat tangan pembuatnya. Namun, dalam dunia modern seperti saat ini, dapat kita jumpai proses pembuatan kain batik yang diprint melalui mesin cetak. Perbedaan metode ini, tentu berpengaruh kepada harga yang dipasarkan oleh pihak penjual. Kain batik yang diproduksi melalui metode print harganya berkisar anatara ratusan ribu rupian. Berbeda dengan batik tulis yang bisa menyentuh harga jutaan, bahkan belasan juta rupiah. Itu bisa dimaklumi karena proses pembuatan batik tulis membutuhkan skill sumber daya manusia, ketelitian serta waktu yang tidak sebentar.


BACA JUGA : Sopir Nindy Ayunda, Sulaiman Bantah Dirinya Disekap

Butuh waktu 3 bulan dan 12 tahapan untuk membuat batik tulis

Dalam proses pembuatan satu buah batik tulis itu, membutuhkan waktu sekitar 3 bulan dan 12 tahapan. Tahapan-tahapan tersebut adalah Nyungging, Njaplak, Nglowong, Ngiseni, Nyolet, Mopok, Ngelir, Nglorod, Ngrentesi, Nyumri, Nyoja, dan Nglorod. Itulah mengapa harga batik tulis jauh lebih mahal daripada batik cetak.


 Dulu, pembuatan batik umumnya dikerjakan wanita

Seiring berjalannya waktu, kini batik bisa dikerjakan oleh siapa saja baik laki-laki atau wanita. Terlebih era modern sekarang batik bisa menggunakan teknik cetak (tidak dengan canting). Jadi, siapa saja bisa mengerjakan hal ini. Namun, jika melihat jauh ke belakang, wanita Jawa di masa lalu mengerjakan pembuatan batik sepanjang hidupnya. Sehingga, pekerjaan membatik dianggap sebagai profesi para wanita di masa itu.


BACA JUGA : Istri Ayus Sabyan, Ririe Fairus, yang Dikabarkan Berselingkuh dengan Nissa Sabyan Gambus

[page-pagination]

Pernah diklaim oleh negara tetangga, Malaysia

Mungkin sebagian dari kita masih ingat akan kejadian pada tahun 2008 lalu, dimana Malaysia sempat mengklaim bahwa batik merupakan salah satu budaya milik mereka. Sontak peristiwa itu menyulut emosi masyarakat Indonesia yang tidak terima, terutama dari sektor pelaku industri.

Hal inilah yang membuat pemerintah Indonesia kemudian mendaftarkan kain batik ke UNESCO, sebagai salah satu warisan budaya yang diakui secara internasional. Barulah pada tahun 2009 pakaian ini diakui sebagai warisan budaya kita hingga hari ini.

BACA JUGA: Harus Bisa Move On, Rachel Vennya Resmi Bercerai dengan Niko Hakim

Salah satu penyumbang devisa bagi Negara

Batik, kini sudah tersebar jauh ke seluruh penjuru mancanegara. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya tokoh-tokoh besar luar negeri, yang mengenakan batik seperti Nelson Mandela hingga Kate Middleton, bahkan Heidi Klum. Bukan hanya mereka, Diane von Furstenberg, Burberry Prorsum, Nicolle Miller, dan Dries van Noten merupakan sederet nama perancang kenamaan dunia yang pernah menggunakan batik untuk rancangan mereka.

Negara pengimpor batik terbesar adalah Amerika Serikat, kemudian Jerman, Jepang, dan Korea Selatan. Maka dari itu, tak heran jika batik menjadi salah satu penyumbang devisa negara terbesar. Pada tahun 2015 lalu saja, total nilai ekspor kain batik ke luar negeri mencapai Rp 2,1 triliun. (ES)

Editor: Tania
    Bagikan:  

Berita Terkait