Tradisi Sains-Teknologi Islam serta Peradaban Modern dalam Riset dan Pendidikan Indonesia, Untuk Manusia ataukah Untuk Industri?

Opini —Minggu, 7 Februari 2021 11:33 WIB
    Bagikan:  
Tradisi Sains-Teknologi Islam serta Peradaban Modern dalam Riset dan Pendidikan Indonesia, Untuk Manusia ataukah Untuk Industri?
ilustrasi - foto by Unsplash

POSKOTAJABAR, BANDUNG


“Saya siap menjadi ilmuwan.  Apakah kamu? "  Begitu tagline di papan reklame sebuah perguruan tinggi.  Kuliah untuk menjadi orang suci - yang identik dengan ilmu pengetahuan murni atau sains - di masa ketika pengetahuan teknis dan ekonomis lebih diutamakan?  Apakah itu merupakan cita-cita idealis tatkala misi dan visi pendidikan Untuk menghamba industri tumbuh subur di berbagai lembaga pendidikan Indonesia?  Ada arus kita simak dulu pernyataan Jean Francois-Lyotard, “Prinsip lama bahwa pengetahuan yang didapat dari pelatihan (Bildung) pikiran ... menjadi kuno dan akan menjadi lebih kuno lagi.


BACA JUGA : Park Seo Joon Ingin Menginspirasi Generasi Milenial Indonesia


Hubungan penyalur dan pemakai pengetahuan kepada pengetahuan yang mereka salurkan dan gunakan saat ini cenderung ... untuk mengambil bentuk yang sama dengan hubungan produser dan konsumen komoditi kepada komoditi-komoditi yang mereka produksi dan konsumsi yaitu, nilai bentuk.  Pengetahuan diproduksi agar dapat dijual.  Pengetahuan konsumsi agar dapat memasukkan dalam sebuah produksi baru: dalam kedua kasus ini, sasarannya adalah pertukaran.  Pengetahuan tidak lagi menjadi tujuan dalam dirinya sendiri.  Pengetahuan Kehilangan 'nilai guna'-nya. ”  Mencari Google Artikel demikian, kata 'saintis' di tagline tersebut can Jadi tak sama DENGAN pengertian PADA Lazim di masa sebelumnya. Itu pula yang menjadi salah satu landasan dari kondisi postmodernitas yang ditunjuk Lyotard, yaitu perubahan dari 'yang melihat' menjadi 'konsumen pengetahuan.


,

Selain itu, ada juga hal lain yang sering ditunjuk sebagai penyebab perubahan ke kondisi postmodernitas (dalam mengubahnya dengan sains dan teknologi). Semenjak Renaisans, sains yang membebaskan diri dari agama (teologi) dan filsafat, lalu berkembang pesat seperti saat ini. Yang paling menderita dari dampak pemisahan ini adalah agama, karena banyak pertanyaan berkenaan dengan asal mula alam semesta dan kelompok manusia yang sebelumnya dimonopoli oleh agama kini berpindah tangan ke ranah sains. Bukan hanya itu saja, perkembangan sains membuat bermunculan banyak optimisme bahwasanya sains bisa menjawab pertanyaan semua manusia ihwal alam semesta serta menggantikan semua doktrin dan ajaran 'non-ilmiah'. Antusiasme atas sains ini juga menciptakan optimisme bahwa kehidupan manusia akan semakin baik dan beradab.


BACA JUGA : Ramalan Zodiak Besok Senin 8 Februari 2021, Leo Ambil Keputusan, Cancer Tidak Ingin Berharap

[page-pagination]


Namun, antusiasme dan optimisme terhadap sains tersebut terancam sirna sebab yang terjadi di abad 20 yang terjadi di abad 20 yang terus bertambah dengan berkembangnya sains, tetapi Perang Dunia I dan II. Bagaimana dengan pengetahuan dan perkembangan sains tersebut, manusia malah menciptakan berbagai mesin pembantai untuk saling membunuh satu sama lain, untuk menindas dan menjajah sesama manusia, menciptakan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, sehingga Julius Robert Oppenheimer, saintis yang Manhattan Project untuk membuat bom Atom tersebut menyatakan “kesadaran dari visi dan perang para kepala negara kita di masa, fisikawan telah merasakan tanggung jawab yang sangat intim untuk mengenyahkan, untuk mendukung, dan pada akhirnya, sebagian besar, untuk mencapai realisasi senjata atom. Kita juga tidak dapat melupakan bahwa senjata-senjata ini, pada kenyataannya memang digunakan, dengan begitu kejam mendramatisasi ketidakmanusiawian dan kejahatan perang modern. Dalam sebentuk pemahaman yang bersahaja, tak ada kevulgaran, tak ada humor, tak ada berlebihan yang dapat dihapuskan, bahwasanya para fisikawan telah mengenal dosa; dan ini adalah pengetahuan yang tidak bisa mereka hilangkan. ”


Hal serupa juga terjadi di tatkala Museum Sejarah Amerika mengadakan pameran tentang perkembangan sains di Amerika. Diharapkan melalui pameran tersebut bisa terlihat berbagai kecanggihan yang mutakhir di bidang sains. Akan tetapi dalam katalog justru sebaliknya, daftar bencana yang diakibatkan perkembangan sains dan teknologi, berupa kerusakan lingkungan, senjata pemusnah massal, makanan yang ditambahi berbagai zat kimia, robotisasi industri yang mengancam keberadaan buruh pabrik, ketidakadilan sosial, berbagai eksperimen tak bermoral , dan lain sebagainya.


BACA JUGA : Rilisnya Kode Reedem PUBG, Berikut ini 5 Kode Redeem PUBG Terbaru Februari 2021, Hadiahnya Unik juga Gratis

[page-pagination]

,

Senada dengan ini, Nasim Butt menyatakan bahwa: “Buah sains modern, mulai dari mesin uap dari zaman Revolusi Industri, senjata kimia modern Perang Dunia I, bom atom Perang Dunia II, hingga teknologi mikro serta rekayasa genetika yang sekarang etika masih dipertanyakan — entah menguntungkan atau malah sebaliknya — telah datang, tanpa diperkirakan sebelumnya, ke tengah-tengah masyarakat yang masih belum siap dan harus menemukan cara untuk menyikapinya. ” Butt juga menyebutkan beberapa ekses sains modern yang bersifat 'akdisental' seperti ledakan pabrik kimia di Bhopal, India, Desember 1984, kecelakaan reaktor nuklir di Chernobyl, di bekas wilayah Uni Soviet, April 1986. Oleh karena itu, menurut Butt, “muncul kesan bahwa penelitian sains itu tak ubahnya laksana 'kotak Pandora' yang menghasilkan produk,


BACA JUGA : Chord Gitar, Lirik hingga Not Angka, Lagu MP3 Terbaik Admesh Kamaleng – Cinta Luar Biasa

Akan tetapi perlu diingat juga bahwa sains dan teknologi - yang sedang dipermasalahkan tersebut - berkembang pesat di dunia Barat, namun awalnya itu merupakan sebentuk utang Barat terhadap dunia Islam.  Hal ini dinyatakan dalam pidato di Universitas Oxford, 27 Oktober 1993, oleh Pangeran Charles yang berada di bahwasanya “Bila ada kesalahpahaman di dunia Barat tentang hakikat Islam, maka banyak juga ketidaktahuan tentang utang kebudayaan dan peradaban kita kepada dunia Islam.  Saya rasa ini adalah kegagalan yang berakar dari ditutupinya sejarah yang kita warisi selama ini. ”


Alfathri Adlin

(Guru SMP Al-Kautsar, Mahasiswa S3 FSRD ITB)

Editor: Tania
    Bagikan:  

Berita Terkait