Pemenang Nobel Kedokteran Temukan Genom Manusia Purba

Selasa, 4 Oktober 2022 14:29 WIB

Share
Ilmuwan Swedia Svante Paabo di Leipzig, Jerman, 27 April 2010.
Ilmuwan Swedia Svante Paabo di Leipzig, Jerman, 27 April 2010.

JATIM.POSKOTA.CO.ID - Hadiah Nobel Kedokteran tahun ini diberikan kepada ilmuwan Swedia yang memecahkan kode DNA Neanderthal, kerabat dekat manusia modern yang telah punah.

Dalam pernyataan yang diterbitkan Senin (3/10), Organisasi Nobel mengatakan Svante Paabo diberi hadiah itu "karena memelopori pendekatan baru untuk mempelajari sejarah evolusi kita."

Pria Swedia, 67, itu mengatasi tantangan teknis yang ekstrem dalam menangani sampel DNA kuno yang rapuh agar berhasil mendapatkan urutan genom, kata organisasi itu. "Ini diikuti," menurut pernyataan, "dengan temuan sensasional dari hominin punah lainnya, Denisova, seluruhnya dari data genom yang diambil dari spesimen kecil tulang jari."

Karya Paabo membuktikan bahwa Homo sapiens, Neanderthal, dan Denisovan berbaur “dalam periode koeksistensi.” Hasilnya, masuknya DNA kuno pada manusia masa kini.”

Paabo berafiliasi dengan Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi, di Leipzig, Jerman, dan Institut Sains dan Teknologi Okinawa, di Okinawa, Jepang.

Hadiah untuk kedokteran adalah yang pertama dari lima yang diberikan minggu ini. Puncaknya adalah pemberian Hadiah Nobel Perdamaian pada Jumat. Hadiah untuk bidang Ekonomi diberikan pada 10 Oktober. Ini satu-satunya hadiah yang tidak dibuat di bawah kehendak penemu Swedia, Alfred Nobel.

Pada 1990an, Pääbo mencetuskan ide untuk tidak mengurut DNA Nukleat, melainkan DNA Mitokondria, yang meski kecil namun punya ribuan salinan. 

Metode yang dia kembangkan akhirnya berhasil mengurut DNA Mitokondria dari sebuah tulang berusia 40.000 tahun asal Siberia. Pengurutan itu pula yang mendasari penemuan spesies purba baru yang diberi nama Denisova.

Hasil pengurutan DNA milik spesies Denisova ini menandakan kali pertama manusia bisa mengakses informasi genetis manusia purba.

Memahami "aliran DNA purba ke manusia modern memiliki relevansi kuat pada dunia kedokteran, misalnya untuk memahami bagaimana evolusi mempengaruhi respons sistem kekebalan tubuh kita terhadap infeksi,” tulis Komite Nobel dalam keterangan persnya, Senin (3/10).

Halaman
Reporter: Admin Jatim
Editor: Srumekso
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar