Lubang Ozon Mengecil, tapi Tidak Mau Menghilang Hingga 2065

Kamis, 22 September 2022 14:20 WIB

Share
Lubang Ozon Mengecil, tapi Tidak Mau Menghilang Hingga 2065
Perlu langkah lanjutan untuk menutup lubang ozon/IST

JATIM.POSKOTA.CO.ID - Tebalnya tak seberapa, tapi lapisan tipis ozon menghalangi cukup radiasi untuk memungkinkan kehidupan di muka Bumi. Seperti yang digambarkan PBB, "jika kita bisa menurunkan lapisan ozon ke permukaan laut, maka tebalnya hanya sekitar tiga milimeter saja. Lapisan inilah yang melindungi kita dari radiasi ultraungu yang berbahaya.”

Sejak beberapa dekade silam kita tahu bahwa lapisan ozon menyusut di sejumlah wilayah. Fenomena yang dikenal dengan sebutan "lubang ozon” itu mempercepat pencairan es di kutub dan secara langsung memengaruhi iklim Bumi.

Sebabnya selama 30 tahun terakhir, PBB menggalang upaya mengurangi penggunaan gas atau senyawa perusak ozon, seperti freon pada lemari pendingin.

Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer AS, NOAA, level gas perusak ozon di Bumi menurun 50 persen pada awal 2022 silam, dibandingkan ketika lubang ozon pertamakali dideteksi. Namun, masih diperlukan langkah lanjutan untuk sepenuhnya menutup lubang ozon. 

Berikut panduan dasar tentang lapisan gas pelindung Bumi itu.

Ozon tidak lain adalah molekul organik yang terdiri dari tiga atom oksigen (O3). Molekul-molekul ozon terbentuk secara alami di level tertinggi atmosfer Bumi. Lapisan O3 ini memungkingkan munculnya kehidupan dengan menyaring sejumlah besar radiasi ultraungu.

Karena ketika sejumlah kecil sinar matahari menguntungkan mahluk hidup, dalam jumlah besar ia sebaliknya mensterilkan semua bentuk kehidupan. 

Ilmu pengetahuan mengenal tiga tipe radiasi ultraungu berdasarkan panjang gelombangnya, yakni A, B, dan C. Lapisan ozon bertugas menyerap sepenuhnya jenis radiasi terkuat, UVC, yang berdaya rusak serupa radiasi nuklir.

Bagaimana lubang ozon terbentuk?

Secara umum, industrialisasi mempopulerkan penggunaan "senyawa perusak ozon” atau ODSs dalam skala besar. Termasuk di antaranya adalah Klorofluorokarbon (CFCs), Haloalkana, Kloroform (CH3CCl3), Karbon tetraklorida (CCI4), Hidroklorofluorokarbon (HCFCs), dan Bromometana.

Halaman
Reporter: Admin Jatim
Editor: Srumekso
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar