Peluang dan Tantangan Internet Masa Depan WWW3

Rabu, 21 September 2022 21:49 WIB

Share
Peluang dan Tantangan Internet Masa Depan WWW3
Pengacara Argentina dan aktivis internet Micaela Mantegna/IST

JATIM.POSKOTA.CO.ID - Perusahaan di seluruh dunia sedang merancang internet masa depan. "Metaverse" atau "web3" dapat merombak internet seperti yang kita kenal saat ini. Apa peluang dan tantangannya?

Apakah kita berada di puncak revolusi internet lagi? Menurut pakar teknologi yang berkumpul di Berlin, Jerman, untuk konferensi yang diselenggarakan oleh platform pembelajaran digital ADA, teknologi baru sekarang dapat merombak internet seperti yang kita kenal — baik dari segi cara pembuatannya maupun tampilannya.

Pada tingkat teknis, idealis teknologi berharap bahwa teknologi blockchain akan membantu membangun arsitektur barun yang terdesentralisasi. Di era "web3" yang baru ini, pengguna akan memiliki kendali atas data, privasi, dan apa yang mereka buat secara online.

"Ini semacam upaya menemukan kembali cara mengatur internet," kata Shermin Voshmgir, penulis yang berbasis di Portugal. "Ini adalah perubahan paradigma yang lengkap." Pada saat yang sama, perusahaan di seluruh dunia sedang mengerjakan teknologi untuk merevolusi cara kita menavigasi web.

Pada awal 1960-an, para peneliti mulai menghubungkan komputer di seluruh dunia. Namun, baru pada tahun 1990-an dengan penemuan world-wide-web dan web browser membuat jaringan tersebut tersedia bagi siapa saja yang mampu membeli koneksi internet.

Sejak itu, web telah mengubah setiap aspek masyarakat, mulai dari cara orang melakukan bisnis hingga cara mereka menemukan informasi atau berinteraksi satu sama lain. "Semuanya telah berubah karena internet," kata Miriam Meckel, CEO ADA dan profesor komunikasi di University of St. Gallen di Swiss. "Dan internet itu sendiri juga telah berubah."

Selama fase pertama web, orang-orang menjelajahi web dari komputer desktop mereka dan menavigasinya terutama melalui mesin pencari. Itu berubah di tahun 2000-an dengan munculnya media sosial dan internet seluler, sehingga memunculkan dunia online seperti yang kita kenal sekarang.

Lebih banyak hak untuk pengguna

Inti dari "web2" ini adalah platform online seperti Facebook dan Instagram Meta atau baru-baru ini, layanan pesan seperti Telegram.

Platform-platform tersebut bisa membantu para pembangkang dalam rezim otoriter mengorganisir protes atau memberikan suara kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Namun, pengungkapan skandal Cambridge Analytica tahun 2018 telah menunjukkan bahwa platform media sosial juga sering digunakan untuk menyebarkan kebencian, memperkuat disinformasi, dan memengaruhi pemilu di negara demokrasi.

Halaman
Reporter: Admin Jatim
Editor: Srumekso
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar