Dishub Gresik Gagas Bangun Terminal Kargo, Optimis Raup Rp15 Miliar/Tahun

Minggu, 21 Agustus 2022 15:49 WIB

Share
Kadishub Tarso Sugito (kanan) pimpin langsung operasi truk yang parkir sembarangan. (Foto: Istimewa)
Kadishub Tarso Sugito (kanan) pimpin langsung operasi truk yang parkir sembarangan. (Foto: Istimewa)

JATIM.POSKOTA.CO.ID - Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Gresik gagas pembangunan tiga terminal kargo (rest area) untuk kendaraan berat, dump truk dan truk tronton.

Selain sebagai solusi mengurai kemacetan, keberadaan terminal kargo itu nantinya diprediksi bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp 15 miliar pertahun.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik, Tarso Sugito mengatakan, rencana pembangunan terminal kargo itu sudah matang. Karena sebelumnya pihaknya telah melakukan survei, di tiga lokasi calon dibangunnya terminal kargo tersebut.

Survei dilakukan di wilayah tengah yaitu di sepanjang Jalan Raya Duduksampeyan, untuk kawasan Utara di Jalan Deandles dan di Gresik Selatan.

"Selama ini mereka parkir di Rumija (ruang milik jalan) karena kami melakukan pembatasan jam operasional kendaraan berat, yaitu mulai pukul 05.00-08.00 WIB dan pukul 15.00-18.00 WIB. Di luar jam itu, mereka boleh melintas," ujar Tarso Sugito.

Akibatnya, tambah Tarso, kendaraan berat yang parkir di Rumija telah menimbulkan kemacetan lalu lintas. Berdasar realita itulah, Dishub yakin, terminal kargo adalah solusi tepat untuk kendaraan berat agar tidak parkir sembarangan, saat menunggu dibukanya jam operasional.

Dari hasil survey tersebut, didapat kesimpulan terminal kargo untuk  Wilayah Utara atau jalan Daendels idealnya di dekat Puskesmas Sidayu.

"Karena disitu ada aset Pemerintah Kabupaten Gresik, berupa lahan yang cukup luas," kasta Tarso Sugito.

Kemudian untuk wilayah Gresik  tengah, jelas Tarso, bisa memanfaatkan lahan di Pasar Ikan Modern, dekat dengan Terminal Bunder, di Jl Raya Duduksampeya arah Lamongan.

"Pasar Ikan Modern, adalah proyek masa lalu yang gagal. Karena lahan yang dipakai itu  aset Dishub, tentu bisa dimanfaatkan,” tegas mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik ini.

Untuk terminal kargo di Gresik Selatan, diakui Tarso, Pemkab Gresik  tidak memiliki aset berupa tanah. Namun ia optimis, lahan bisa didapatkan melalui kolaborasi dengan desa yang masih memiliki Tanah Kas Desa (TKD).

"Kami telah survei, ada lahan di Desa Bringkang, Kecamatan Menganti. Ini bisa kita kolaborasikan dengan desa, untuk memanfaatkan lahan itu,” terangnya. 

Selain penggunaan tanah aset pemda dan kerjasama dengan desa, Dishub juga akan melakukan inventarisasi tanah negara untuk digunakan sebagai terminal kargo.

Selain memiliki ancar-ancar calon lokasinya, Tarso juga menguraikan pendapatan yang bisa diraup Pemkab Gresik bila gagasan pembangunan terminal kargo tersebut teralisasi.

Nantinya, setiap truk yang parkir di rest area dikenakan tarif Rp10 ribu. Kalau parkir sampai menginap, dikenakan tarif progresif antara Rp30 ribu sampai Rp50 ribu per malam.

Besaran tarif tersebut, kata Tarso, mengacu pada tarif yang selama ini diterapkan pengusaha SPBU di Gresik yang juga membuka usaha parkir truk.

“Saya sudah keliling ke sejumlah SPBU di wilayah Duduksampeyan, ternyata truk yang parkir tidak sampai sehari dipungut Rp20 ribu, kalau bermalam Rp 50 ribu," kata mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik.

Dengan data lokasi yang realistis tersebut, Tarso Sugito optimistis bila pembangunan tiga terminal parkir truk tersebut terwujud maka bisa menghasilkan PAD Rp15 miliar pertahun.

"Dishub berharap, tahun ini sudah bisa dilakukan studi kelayakan untuk pembangunan terminal kargo tersebut, dan ini perlu dukungan dari semua pihak," ujar mantan Kabag Hukum Pemkab Gresik ini.  (san)**

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar