Putin Sedang Mengobarkan Perang Hibrida di Ukraina

Minggu, 20 Februari 2022 21:17 WIB

Share
Presiden Rusia Vladimir Putin. (foto:dw.com)
Presiden Rusia Vladimir Putin. (foto:dw.com)

JATIM.POSKOTA.CO.ID - Pekan ini, Kementerian Pertahanan Ukraina dan dua bank terbesar, PrivatBank dan Oshadbank, menjadi korban serangan siber. Untuk beberapa lama, nasabah tidak bisa menggunakan kartu atau sistem perbankan online. 

Insiden tersebut terjadi ketika senjata artileri dilaporkan menyalak di sekitar kawasan pemberontak di Luhansk dan Doneszk. Pada saat yang sama, parlemen Rusia berencana memberi pengakuan resmi terhadap republik bentukan pemberontak di timur Ukraina.

Paduan antara perang konvensional dan serangan siber yang disertai gelombang disinformasi merupakan bagian dari strategi perang hibrida yang dilancarkan Rusia di Ukraina sejak delapan tahun terakhir. 

Konflik asimetris biasanya berkecamuk dalam senyap, di luar perhatian dunia. Namun bagi warga Ukraina, perang sudah menjadi makanan sehari-hari. 

"Dalam prinsip perang hibrida, cara-cara nirmiliter adalah yang paling penting,” kata pakar Eropa Timur, Margarete Klein dari wadah pemikir di Berlin, Institut Sains dan Politik (SWP).

"Tujuannya bukan untuk merebut sebuah wilayah teritorial, melainkan mengamankan pengaruh. Demonstrasi kekuatan militer seperti mobilisasi pasukan, latihan militer di Belarusia, atau juga komunikasi yang terkoordinasi adalah bagian dari katalog yang lebih luas.”

Menurutnya, strategi perang hibrida diarahkan untuk "mendikte narasi.” Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang merupakan jebolan dinas rahasia KGB, "menguasai” tata cara perang asimetris secara mendalam.

"Yang digunakan adalah strategi babak belur, di mana mereka berusaha menekan diskursus politik dalam negeri di Ukraina dengan tujuan membelokkan haluan ke arah lebih pro-Rusia,” kata Margarete Klein. "Sasaran lain adalah menciptakan rasa lelah di barat terhadap isu Ukraina,” imbuhnya.

Implikasi besar terhadap ekonomi

Ukraina mulai berada dalam bidikan Rusia setelah Revolusi Maidan yang menjatuhkan Presiden Viktor Yanukovitch pada 2014 atas tuduhan korupsi dan manipulasi pemilu.

Halaman
Reporter: Admin Jatim
Editor: Srumekso
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar
Berita Terpopuler