Wisata ke Jogja Belum Sah Kalau Tidak Selfie di Tugu Pal Putih

Sabtu, 19 Februari 2022 20:26 WIB

Share
Tugu Pal Putih Yogyakarta(Foto/Dok: Gandung Kardiyono Poskota Jatim)
Tugu Pal Putih Yogyakarta(Foto/Dok: Gandung Kardiyono Poskota Jatim)

JATIM.POSKOTA.CO.ID - Banyak wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, selalu menyempatkan diri untuk berswafoto atau selfie di depan Tugu Pal Putih.

Mereka merasa belum afdol atau sah kalau belum pamerkan foto di area simbol kota Jogja tersebut, kepada rekan atau saudaranya.

Tugu Pal Putih atau Tugu Golong Gilig ini berada di persimpangan antara Jl. Margo Utomo (dulu bernama Jl. P. Mangkubumi), Jl.A.M. Sangaji, Jl. Jendral Sudirman, dan Jl. P. Diponegoro.

Karena bentuknya yang panjang dan warnanya putih, orang Belanda kala itu menyebutnya sebagai white paal (tiang putih).

Tugu ini, menjadi bagian dari sumbu filosofis yang membentang dari Gunung Merapi, Tugu Golong Gilig, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan.

Menurut sejarah Tugu Pal Putih ini dibangun setahun setelah Yogyakarta berdiri, tepatnya pada tahun 1756.

Awalnya bentuk bangunan ini berupa silinder (golong) dengan puncak berupa bulatan (gilig), sehingga dikenal dengan sebutan Tugu Golong Gilig.

Bentuk yang berupa golong gilig memiliki makna semangat persatuan antara rakyat dengan rajanya.

Juga sebagai simbol atas filosofi Jawa Manunggaling Kawula Gusti yang bukan hanya berarti menyatunya rakyat dengan penguasa.

Tetapi juga memiliki makna menyatunya, antara manusia dengan kehendak Sang Pencipta.

Pada masa lalu bulatan atau gilig di puncak tugu, digunakan sebagai titik pandang ketika Sri Sultan sedang Sinawaka (meditasi) di Bangsal Manguntur Tangkil.

Bangsal Manguntur Tangkil adalah ruang takhta yang terletak di Siti Hinggil Lor, pelataran keraton yang tanahnya ditinggikan.

Disaat pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877), pada tanggal 10 Juni 1867, terjadi gempa tektonik berskala besar di Yogyakarta.

Beberapa bangunan runtuh, termasuk Tugu Golong Gilig. Pilar tugu patah kurang lebih sepertiga bagian.

Peristiwa ini dikenang dalam candra sengkala yang berbunyi Obah Trus Pitung Bumi (tujuh bumi terus berguncang), menunjuk pada angka 1796 tahun Jawa.

Selama beberapa tahun, Tugu Golong Gilig terbengkelai. Baru pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), tugu ini dibangun kembali dan diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1889.

Namun dalam pemugaran kembali Tugu ini sudah mengubah bentuk aslinya, semula berbentuk golong dan gilig, menjadi berbentuk persegi dan berujung lancip.

Selain itu ketinggian tugu yang semula 25 meter menjadi 15 meter saja. Ditengarai, desain baru ini merupakan strategi pemerintah Belanda.

Yaitu untuk menghilangkan simbol kebersamaan raja dan rakyat yang ditunjukkan oleh desain tugu sebelumnya. (GG)**

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar
Berita Terpopuler