Seniman Tari Tri Broto Sebut, Gak Ndayani Sebagai Pendekatan Estetik Tari Timur-an

Rabu, 30 Juni 2021 13:34 WIB

Share
Seniman tari, Tri Broto Wibisono. foto: poskotajatim/gandung
Seniman tari, Tri Broto Wibisono. foto: poskotajatim/gandung

JATIM.POSKOTA.CO.ID Gak Ndayani dari bahasa Jawa yang bila diartikan secara sederhana adalah tidak memiliki kekuatan, lunglai.

Merupakan keenakan tubuh atau kenyamanan rasa menari yang didorong dari dalam diri, untuk melakukan serangkaian ragam gerak tari sesuai dengan getaran jiwa dan  musik tariannya.

Kualitas tari tidak dapat diukur sebagai tehnik ataupun bentuk yang baik, tetapi mampu menghidupkan suasana panggung.

pembawaan menarinya sangat santai (gak ndayani), namun tarian itu sendiri bagaikan olah tubuh yang berbicara.

dalam gerakan yang santai tersebut mengalir suatu getaran untuk menyampaikan beberapa kesan,  misalkan gagah, kuat ataupun kesan halus dan ringan.

Sejumlah penari Remo pada Festival Tarian Tradisional Jawa Timur di Balai Pemuda Surabaya, sebelum pandemi Covid-19. foto: poskotajatim/dodohawe

 

Seorang seniman tari, Tri Broto Wibisono menguraikan bahwa, pada mulanya kualitas tari yang tersirat dalam Gak Ndayani atau Ora Ndayani sangat kuat sebagai ukuran puncak kualitas kepenarian Ngremo.

Ada seorang seniman namanya Munali Patah, dulu dia nyantrik (belajar) tari ngremo ke cak Winoto penata tari Ngremo sekitar tahun 1940 an. 

Cak Winoto memadukan solah (ragam gerak tari) Besut, Wayang Topeng Klono Gagah dan sentuhan seni pencak silat sebagai bagian dari pertunjukan sandiwara ludruk.

Tri Broto mengatakan, pada umumnya kualitas gak ndayani ini melekat pada kebanyakan pertunjukan seni tradisi kerakyatan di wilayah Jawa Timur.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar
Berita Terpopuler